Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Wawancara Kepala Pussainsa dengan Media GoodNews From Indonesia
Penulis Berita : • Fotografer : • 27 Feb 2017 • Dibaca : 629 x ,

(Bandung, 23/2/2017). Disela-sela kesibukannya Kepala Pussainsa. Dra. Clara Y. Yatini M.Sc. menyempatkan diri melakukan wawancara bersama Fairuz dari GoodNews From Indonesia (GNFI) Kamis, 23 Februari 2017 di Kantor Pusat Sains Antariksa. Pada intinya, dari GNFI mempertanyakan sejauh mana perkembangan keantariksaan di Indonesia, dalam hal ini peran Indonesia, terutama LAPAN.

Kapussainsa menyatakan bahwa saat ini Indonesia belum bisa meluncurkan satelit maupun manusia ke ruang antariksa sendiri dan masih harus bekerja sama dengan NASA (Amerika), JAXA (Jepang), ataupun negara lain yang punya program mengirimkan manusia ke Stasiun Ruang Angkasa Internasional (International Space Station, ISS). Indonesia jika ingin mengirimkan manusia ke ruang angkasa perlu biaya besar dan memenuhi persyaratan usia, training, serta persyaratan lainnya. Orang Indonesia yang akan dikirim ke sana harus mempunyai misi, seperti Malaysia mengirim ke ISS mempunyai misi protein, selain misi sel dan mikroba di antariksa.

Dijelaskan juga bahwa yang perlu diutamakan yaitu misinya dulu dan siapa yang akan diajak kerjasama, serta komunikasi detailnya. Misi LAPAN dalam hal kerjasama dengan ITB dan Jepang bukan mengirimkan manusia tetapi penelitian, tetapi yang melaksanakan astronot adalah Jepang. Itupun belum bisa dilakukan karena biayanya cukup besar, jadi masih ditunda. Biaya untuk bahan saja memerlukan biaya sekitar 10 milyar rupiah. Perlu kesiapan dana, karena tidak hanya 1-2 hari.

“Untuk LAPAN belum ada rencana mengirimkan manusia ke sana, tapi tidak tertutup kemungkinan karena perjalanan antariksa di masa yang akan datang akan menjadi suatu hal yang biasa seperti hal sebelumnya di awal abad 20 pesawat terbang yang masih baru. Ada hal-hal baru yang harus dipelajari seperti kehidupan tanpa gravitasi. Bahkan negara maju sudah mencanangkan ‘go to Mars’. Oleh sebab itu kita perlu berperan di ruang antariksa. Nantinya, ada saluran untuk melaksanakan itu, “ucap Kapussainsa.

LAPAN berdasarkan Undang-Undang Keantariksaan pasti akan ikut berperan dalam proses koordinasi dengan lembaga keantariksaan lain ataupun proses seleksi. Kerja sama LAPAN dengan instansi lain di dalam negeri, harus dilihat dulu misinya, semisal berkaitan dengan tikus dengan Pertanian atau malaria dengan Departemen Kesehatan. Tapi jelas LAPAN bisa berperan dalam koordinasi dengan lembaga antariksa.

Fairuz juga menanyakan kriteria untuk menjadi astronot (di luar tupoksi LAPAN). Tetapi Clara menjelaskan untuk kasus di Jepang, kesehatan paling utama, terutama di ruang mikro gravitasi, manusia akan mengalami penurunan daya tahan tubuh. Sedangkan background bidang studi, semua bidang studi bisa melakukannya sesuai SOP dalam misinya. Jadi tidak ada kekhususan bidang ilmu, misalnya hanya astronomi saja. Siapapun bisa jadi astronot.

Berkaitan calon astronot Indonesia, Rizman dengan latar belakang IT disinggung juga. Setelah mengikuti seleksi, masih menunggu keputusan dari Amerika. Tantangan menerbangkan astronot untuk pemerintah yaitu biaya tetapi sekali lagi misi ruang angkasa sangat penting apakah bermanfaat untuk Indonesia. Semisal air di Bumi adalah biasa tetapi di luar angkasa, dia menjadi berbentuk bulatan tidak lagi cair seperti biasa. Secara khusus pengiriman astronot tidak ada di Undang-Undang Keantariksaan, hanya peluncuran wahananya. Batasan usia dan kacamata disinggung juga, karena diperlukan kondisi prima dan bahkan tidurpun harus diikat, bagaimana kalau pakai kacamata. Misi ke ruang antariksa diperkirakan memakan waktu 6 bulan, itupun sampai ke ISS pada ketinggian 360 km dari Bumi. Sedangkan misi ke Mars bisa memakan waktu 1 tahun untuk perjalanan perginya, harus dihitung berapa lama dia tinggal.

Wahana Pioneer yang akan diterbangkan ke Mars hanya ditanggung berangkatnya saja. Teknologi dari Indonesia baru bisa membuat satelit mikro dan sudah 3 satelit mikro yang diluncurkan LAPAN. Roket berukuran kecil yang dihasilkan LAPAN baru sampai diameter 55 cm, sedangkan satelit BRIsat berukuran besar berasal dari luar negeri. Dari lima proposal penelitian oleh siswa/mahasiswa yang dikirimkan hanya 1 proposal yang diterima. Dilakukan percobaan meletakan tiga benda dengan masa jenis berbeda seperti alumunium, kayu semuanya melayang. Diserahkan pula brosur rencana ide penelitian ke antariksa. Proyek jangka pendek LAPAN adalah peluncuran satelit yang dilakukan Pusteksat dan Pusat Roket di Bogor.

LAPAN bercita-cita membangun wahana peluncur antariksa, roketnya dikembangkan juga membangun benda antariksanya juga. Bandar antariksa kandidat utama akan dibangun di Biak, dulu pernah ada rencana di pulau Enggano, Bengkulu dan di pulau Morotai, Maluku Utara tetapi setelah dikaji sudah tidak memungkinkan lagi dibangun di sana. Untuk jangka panjang LAPAN sudah bisa berperan di bidang keantariksaan seperti sudah dibangun bandar antariksa serta wahana antariksa seperti yang sudah tercantum dalam Rencana Induk LAPAN yang sedang menunggu pengesahannya oleh Presiden. Pada kesempatan yang sama Clara meminta untuk menyampaikan rencana usulan proposal penelitian oleh anak-anak Indonesia. Proposal dalam bahasa Indonesia boleh, setelah terseleksi nantinya akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tahun lalu peserta di bawa ke JAXA untuk melihat video streaming penelitian mereka bersama 4 perwakilan negara lain yang terseleksi di ASEAN.

Fairuz juga menyinggung rencana Observatorium Kupang yang baru akan dimulai, diharapkan 2017 sudah selesai dan mulai dibangun di sana. Di Kupang nanti akan ditempatkan teleskop dengan diameter 3,8 m. Kerjasama dengan luar negeri, belum tentu Jepang, tetapi siapapun itu nantinya akan mengirimkan orang untuk belajar di sana (negara yang diajak kerjasama).

Rencananya Observatorium Bosscha masih digunakan untuk edukasi, sedangkan Observatorium Nasional Kupang digunakan untuk penelitian. Direncanakan selesai pada tahun 2020 sesuai rencana. Sejak dibangunnya Obsevatorium Bosscha selama hampir seratus tahun, Indonesia belum memiliki lagi observatorium. Nantinya di Kupang akan dibangun juga Science Center untuk edukasi dan lain-lain, juga area wisata untuk melihat langit secara berbaring sebagai daya jual dengan latar belakang rumah adat Timor. Diharapkan juga sebagai penyanggah untuk perkembangan daerah sekitar. Pembangunan dilaksanakan bersama 5 instansi: LAPAN, ITB, Undana, Pemprov Timor, dan Pemkab Kupang.

Video Streaming Profil Observatorium Nasional Kupang

(Penulis : Iyus Edi / Christine W)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. DR. Djundjunan 133 Bandung 40173 Indonesia
Telp. (022)6012602 Fax.(022)6014998.




© 2014 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL