Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


Kolokium Menyambut GMT 2016
News Writter : • Photographers : • 22 Apr 2015 • Read : 3058 x ,

Bandung-Pussainsa (21/04). Menyambut peristiwa Gerhana Matahari Total (GMT) tanggal 9 Maret 2016, diperlukan berbagai persiapan untuk pengamatan gerhana tersebut. Salah satu persiapan yang dilakukan yaitu dilaksanakannya seminar/kolokium pada hari Selasa, 21 April 2015 di Ruang Rapat Dirgantara Pussainsa pukul 13.30 WIB. Kolokium ini dihadiri sejumlah peneliti dan perekayasa yang ada di lingkungan Pussainsa LAPAN, dimoderatori oleh Drs. Mamat Ruhimat, M.Si selaku Koordinator Ilmiah.

Sesi pertama pemateri berasal dari bidang Matahari dan Antariksa (Matsa), Emanuel Sungging Mumpuni, M.Si dengan presentasi tentang Persiapan Pengamatan Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Disini dipaparkan lintasan gerhana yang melewati wilayah Indonesia, penelitian yang akan dilakukan oleh bidang Matahari dan Antariksa, pemilihan lokasi pengamatan dan hasil survei lokasi di Maluku Utara yaitu Pulau Ternate, Halmahera Timur dan Maba. Menurut Emanuel, Pulau Ternate dan Halmahera Timur merupakan lokasi yang bisa dijadikan tempat pengamatan, tetapi Maba diprediksi lebih strategis namun ada kendalanya yaitu aksesibilitas, listrik dan komunikasi sehingga perlu didikusikan lagi dimana tempat pengamatan yang lebih tepat.

Sesi kedua dilanjutkan presentasi oleh Fitri Nuraeni, M.Si dari bidang Geomagnet dan Magnet Antariksa (Geomagsa) tentang Dampak Gerhana Matahari Total Terhadap Kondisi Magnetosfer Bumi. Menurut salah satu peneliti bidang Geomagsa ini, ketika terjadi gerhana, radiasi matahari yang mengionisasi akan terhalang sehingga ada penurunan konduktivitas di daerah sepanjang lintasan gerhana, yang mengakibatkan perubahan pada arus dynamo. Arus tersebut juga akan menimbulkan ketidakstabilan pada plasma ionosfer yang berdampak pada pembangkitan gelombang ULF. Pada saat gerhana terjadi, ada juga peningkatan kerapatan partikel angin surya pada daerah sekitar bulan di belahan menghadap matahari. Pada akhir GMT partikel-partikel tersebut dibebaskan menuju daerah tertentu magnetopause sekitar lokasi yang mengalami GMT, sehingga mengakibatkan peningkatan gangguan magnetik. Pengamatan direncanakan di Pulau Belitung dan Palangkaraya.
Presentasi yang sudah dipaparkan membuat para peneliti dan perekayasa yang mendengar antusias. Diskusi dan tanya jawab pun berlangsung. Diharapkan melalui kolokium ini perencanaan penelitian berkaitan pengamatan GMT dapat dilakukan sesuai dengan arahan dan masukan dari Kapussainsa, koordinator ilmiah, para peneliti dan perekayasa lainnya.

(Humas Pussainsa : Christine/Sucipto – Diupload oleh Syahril ; pada tanggal 22/4/15)








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. DR. Djundjunan 133 Bandung 40173 Indonesia
Telp. (022)6012602 Fax.(022)6014998.




© 2014 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL