Berita

Layanan Informasi

Lapan @ Media


KELOMPOK PENELITIAN MATAHARI

Sejak mampu membuat roket, manusia memiliki kemampuan untuk menembus atmosfer Bumi dan memperluas cakrawala peradabannya. Manusia dapat menempatkan satelit buatan pada orbitnya mengelilingi Bumi atau bahkan meluncurkan wahana antariksa ke planet lain. Pada saat itulah, manusia memasuki abad antariksa.

Peradaban manusia semakin bergantung pada teknologi dan pemanfaatan antariksa. Komunikasi satelit semakin menjadi andalah. Penggunaan Global Positioning System (GPS) untuk penentuan posisi di permukaan Bumi menjadi aktivitas tak terelakan. Pemotretan muka Bumi dari satelit senantiasa dilakukan. Sedemikian pentingnya pemanfaatan antariksa menuntut manusia untuk memahami kondisi dan cuaca antariksa seperti halnya cuaca di atmosfer Bumi.

Cuaca antariksa pada dasarnya adalah kondisi dan fenomena antariksa (dekat Bumi) yang dapat mempengaruhi aset dan kegiatan antariksa. Cuaca antariksa banyak dipengaruhi oleh aktivitas Matahari sebagai bintang induk Tata Surya. Letupan di permukaan Matahari dapat memberikan gangguan komunikasi hingga kerusakan satelit yang mengitari Bumi. Cuaca antariksa perlu dipantau dan diprediksi supaya gangguan yang ditimbulkan dapat diminimalisasi dampaknya. Salah satu cara pemantauan cuaca antariksa adalah dengan melakukan pengamatan Matahari secara rutin. Pengamatan ini dilakukan di beberapa Balai Pengamatan milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Penelitian Matahari

Fisika dan dinamika aktivitas Matahari menjadi salah satu fokus penelitian yang dilakukan di Pusat Sains Antariksa LAPAN. Konveksi plasma di dekat permukaan Matahari membangkitkan medan magnet yang menjadi mesin variabilitas aktivitas Matahari. Sejumlah fitur seperti bintik matahari, plage, filamen/prominensa, hingga lubang korona menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian yang dilakukan. Fitur-fitur tersebut merupakan indikator tinggi-rendahnya aktivitas Matahari yang berulang sekitar 11 tahun. Fenomena energetik seperti flare dan Coronal Mass Ejection (CME) dapat dianggap sebagai corong energi dari Matahari ke antariksa. Fenomena itulah yang memberikan gangguan pada lingkungan antariksa serta mempengaruhi cuaca antariksa.

Flare dapat dianggap seperti kilat sementara CME dianalogikan seperti hujan. Penelitian bidang Matahari yang dilakukan di Pusat Sains Antariksa LAPAN diarahkan untuk memahami fenomena semacam itu serta dapat meramalkan kejadiannya. Perangkat observasi, statistik, pengolahan citra, komputasi, hingga sistem kecerdasan buatan menjadi piranti utama dalam penelitian ini.

Penelitian Benda Jatuh Antariksa

Penelitian di Pusat Sains Antariksa LAPAN juga berfokus pada fenomena benda jatuh antariksa, baik alami maupun buatan. Benda jatuh antariksa alami dapat berupa meteoroid, asteroid, bahkan komet. Benda semacam ini dapat sewaktu-waktu jatuh ke permukaan Bumi dan memiliki potensi bahaya. Namun, perlu menjadi perhatian bahwa kemungkinan benda berukuran raksasa jatuh ke permukaan Bumi amat kecil. Meski demikian, tetap perlu menjadi perhatian dan perlu senantiasa dipantau.

Selain benda-benda alami, Bumi juga telah dikelilingi oleh sampah antariksa yang berpotensi menjadi benda jatuh antariksa. Bekas roket, satelit yang telah mati, atau serpihan lainnya menjadi sampah yang mengitari Bumi dengan kecepatan tinggi. Bila sampah antariksa memiliki orbit yang tidak terlalu tinggi, maka hambatan atmosfer dapat memperlambat gerak benda tersebut. Seiring waktu, orbit benda akan semakin rendah dan jatuh ke permukaan Bumi.

Pemahaman tentang kala hidup benda/sampah pengorbit Bumi dapat digunakan untuk melakukan mitigasi bahaya benda jatuh antariksa buatan. Aspek inilah yang menjadi salah satu fokus penelitian bidang antariksa. Salah satu keluarannya adalah sistem pendukung keputusan (Decision Support System, DSS) yang dapat diakses di situs orbit.sains.lapan.go.id.

Penelitian Lingkungan Antariksa

Anomali atau keanehan yang dialami satelit buatan yang mengorbit Bumi menjadi salah satu fokus penelitian di Pusat Sains Antariksa LAPAN. Aliran partikel dari Matahari yang dikenal dengan sebutan angin Matahari mengalami variasi sepanjang waktu. Ada suatu masa ketika aliran partikel memuncak dan berdampak pada kelangsungan operasi satelit pengorbit Bumi. Interaksi antara partikel angin matahari dan material satelit serta dampaknya menjadi objek penelitian.

Astronomi dan Astrofisika

Bidang penelitian berikutnya adalah astronomi dan astrofisika. Bidang ini berbicara tentang ruang antariksa yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada Tata Surya saja. Sangat banyak topik penelitian yang tercakup dalam astronomi dan astrofisika. Pada dasarnya, penelitian astronomi dan astrofisika berpijak pada data pengamatan teleskopik pada beragam panjang gelombang elektromagnetik. Teleskop optik dengan ukuran sekitar 4 meter yang akan dibangun di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur, diharapkan menjadi senjata baru dalam pengamatan dan penelitian astronomi dan astrofisika di Pusat Sains Antariksa LAPAN.

Anggota

1. Abdul Rachman, M.Si. (abdul.rachman@lapan.go.id)

2. Drs. Agustinus Gunawan Admiranto (gunawan.admiranto@lapan.go.id)

3. Dr. Emanuel Sungging Mumpuni (emanuel.sungging@lapan.go.id)

4. Farahhati Mumtahana, S.Si. (farahhati.mumtahana@lapan.go.id)

5. Gerhana Puannandra Putri, S.Si. (gerhana.puan@lapan.go.id)

6. Heri Sutastio, Amd. (heri.sutastio@lapan.go.id)

7. Herli Mia Haqu (mia.haqu@lapan.go.id)

8. Johan Muhamad, M.Sc. (johan.muhamad@lapan.go.id)

9. Muhamad Zamzam Nurzaman, M.Si. (muhamad.zamzam@lapan.go.id)

10. Nana Suryana (nana.suryana@lapan.go.id)

11. Neflia, S.Si. (neflia@lapan.go.id)

12. Nizam Ahmad (nizam.ahmad@lapan.go.id)

13. Rasdewita Kesumaningrum, M.Si. (rasdewita.kesumaningrum@lapan.go.id)

14. Dr. Rhorom Priyatikanto (rhorom.priyatikanto@lapan.go.id)

15. Santi Sulistiani, S.Si. (santi.sulistiani@lapan.go.id)

16. Tiar Dani, M.Si. (tiar.dani@lapan.go.id)

Daftar Publikasi Terkini (pilihan)

2017

1. J. Muhamad, K. Kusano, S. Inoue, D. Shiota. Magnetohydrodynamics simulation for studying solar flare trigger mechanism, The Astrophysical Journal (2017) 842: 86.

2016

1. R. Priyatikanto, M.B.N. Kouwenhoven, M.I. Arifyanto, H.R.T. Wulandar, S. Siregar. The dynamical fate of binary star clusters in the Galactic tidal field, Monthly Notices of the Royal Astronomical Society (2016) 457: 1339.

2. A.G. Admiranto, R. Priyatikanto. Multi-wavelength Observations of Two Explosive Events and Their Effects on the Solar Atmosphere, Journal of Astronomy and Space Sciences (2016) 33: 197.

3. R. Priyatikanto. Shape Parameters of 1991 to 2016 Solar Corona, Research in Astronomy and Astrophysics (2016) 16: 181.

4. T. Dani, R. Priyatikanto, A. Rachman. Ludendorff coronal flattening index of the total solar eclipse on March 9, 2016, Journal of Physics: Conference Series (2016) 771: 012005.

5. E.S. Mumpuni, M.Z. Nurzaman, N. Suryana. Preliminary results of the solar corona spectroscopic observation of 9th March 2016 Total Solar Eclipse, Journal of Physics: Conference Series (2016) 771: 012004.

6. F. Mumtahana, Sartika, A.G. Admiranto, E. Sungging, M.Z. Nurzaman, R. Priyatikanto, T. Dani. Tutulemma of near equator partial solar eclipse 2016, Journal of Physics: Conference Series (2016) 771: 012021.

7. J. Muhamad, F. Mumtahana, H. Sutastio, I. Imaduddin, G.P. Putri. Coronal structure analysis based on the potential field source surface modeling and total solar eclipse observation, Journal of Physics: Conference Series (2016) 771: 012034.

8. F. Mumtahana, A. Jaelani, J. Muhamad, H. Sutastio. Stellar background observation during Total Solar Eclipse March 9th 2016, Journal of Physics: Conference Series (2016) 771: 012038.

9. S. Filawati, Gammamerdianti, E.E. Hidayat, Y. Suryana, R. Kesumaningrum. The determination of area and time comparison of the partial solar eclipse at space science center, LAPAN, Journal of Physics: Conference Series (2016) 771: 012040.

10. R. Priyatikanto, F. Mumtahana, M. Tarigan. Variasi Diurnal dan Musiman Kemunculan Lapisan E-Sporadis di Atas Sumedang Tahun 2015, Jurnal Sains Dirgantara (2016) 13: 111.

11. A.G. Admiranto, N. Widodo, I.E. Rusnadi, H. Sutastio, Dasimun. Analisis prekursor flare/pelontaran massa korona dalam rangka peringatan dini cuaca antariksa, Jurnal Sains Dirgantara (2016) 13: 97.

2015

1. E.S. Mumpuni, D. Herdiwijaya, M. Djamal, T. Djamaluddin. Multi-wavelength fibril dynamics and oscillations above sunspot: I. morphological signature, Research in Astronomy and Astrophysics (2015) 15: 1843.

2. A.G. Admiranto, R. Priyatikanto. Moreton Waves Related to the Solar Eruption Occurred on 3 June 2012 and 6 July 2012, Publications of the Korean Astronomical Society (2015) 30: 57.

3. E.S. Mumpuni, D. Herdiwijaya, M. Djamal, T. Djamaluddin. Multi-Wavelength Fibril Dynamics and Oscillations above Sunspot Wave Propagation, Publications of the Korean Astronomical Society (2015) 30: 59.

4. R. Priyatikanto, M.I. Arifyanto. A New Non-parametric Approach to Determine Proper Motions of Star Clusters, Publications of the Korean Astronomical Society (2015) 30: 271.

5. E.S. Mumpuni, D. Herdiwijaya, M. Djamal. Multi-wavelength analysis from tomography study on solar chromosphere, AIP Conference Proceedings 1656 (1), 070009

6. E.S. Mumpuni, D. Herdiwijaya, M. Djamal, T. Djamaluddin. Multi-wavelength fibril dynamics and oscillations above sunspot–Fourier decomposition, AIP Conference Proceedings (2015) 1677: 050006.

7. R. Priyatikanto, B. Religia, A. Rachman, T. Dani. Towards Photometry Pipeline of the Indonesian Space Surveillance System, AIP Conference Proceedings (2015) 1677: 050011.

8. A.G. Admiranto, R. Priyatikanto, U. Yus’an, E. Puspitaningrum. Moreton waves and EIT waves related to the flare events of June 3, 2012 and July 6, 2012, AIP Conference Proceedings (2015) 1677: 050014.

9. T. Dani, A. Rachman, R. Priyatikanto, B. Religia. Instrumentation development for space debris optical observation system in Indonesia: Preliminary results, AIP Conference Proceedings (2015) 1677: 050016.

10. F. Mumtahana, S. Sulistiani, R. Kesumaningrum. Correlation between solar activity and El Niño Southern Oscillation (ENSO). AIP Conference Proceedings (2015) 1677: 050018.

11. R. Priyatikanto, A. Rachman, T. Dani. Pengamatan Optik Satelit LEO: Analisis Fotometri, Jurnal Sains Dirgantara (2015) 12: 103-116

2014

1. E.S. Mumpuni, D. Herdiwijaya, M. Djamal. Oscillation signature from multi-wavelength analysis on solar chromosphere, AIP Conference Proceedings (2014) 1589: 050016.

2. A.G. Admiranto, E.S. Mumpuni, J. Muhamad, N. Suryana. Analysis of blackdrop effect in the transit of Venus on June 6, 2012, AIP Conference Proceedings (2014) 1589: 050042.

3. N. Ahmad, Neflia. Karakteristik partikel bermuatan di wilayah anomali Atlantik Selatan yang berpoteni penyebab gangguan operasional satelit orbit rendah, Jurnal Sains Dirgantara (2014) 11, 83.


Kontak kami :
LAPAN
Jl. DR. Djundjunan 133 Bandung 40173 Indonesia
Telp. (022)6012602 Fax.(022)6014998.




© 2014 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL